Rabu, 29 Mei 2019

Penerapan Bioteknologi Merah (Bayi Tabung)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah sahabat membaca postingan mengenai Penerapan Bioteknologi Hijau (Bioteknologi Pupuk Hayati) https://pujatw.blogspot.com/2019/05/penerapan-bioteknologi-hijau.html dan Bioteknologi Biru (Bioteknologi Perikanan) https://pujatw.blogspot.com/2019/05/penerapan-bioteknologi-biru.html
Kali ini saya akan membagikan video dalam penerapan bioteknologi merah yaitu Bayi Tabung

Simak video berikut ini yaaa
Semoga bermanfaat 😉

Penerapan Bioteknologi Biru (Bioteknologi Perikanan)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia. Biokimia mempelajari struktur kimiawi organisme. Rekayasa genetika adalah aplikasi genetik dengan mentransplantasi gen dari satu organisme ke organisme lain. Bioteknologi biasanya digunakan dalam bidang industri perobatan dan pertanian, bioteknologi membantu dalam menghasilkan suplemen makanan, untuk menguji diagnosa penyakit. Bioteknolgi juga digunakan dalam bidang perikanan.
Bioteknologi perikanan adalah bioteknologi yang ditekankan khususnya pada bidang perikanan. Pada pascapanen dari hasil perikanan, bioteknologi ini mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi hingga dihasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan dan budidaya ikan. Manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan ikan budidaya, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan, meningkatkan kesehatan ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam.

B.     Rumusan Masalah
             Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
          1.    Apa yang dimaksud dengan bioteknologi perikanan?
            2.      Bagaimana sejarah bioteknologi perikanan?
            3.      Apa manfaat dari bioteknologi perikanan?
            4.      Apa saja penerapan bioteknologi perikanan?
            5.      Apa saja teknik transforgen pada bioteknologi perikanan?
            6.      Bagaimana peranan probiotik dalam bioteknologi perikanan?
            7.      Contoh produk penerapan bioteknologi perikanan?

C.    Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini, yaitu:
            1.      Untuk mengetahui pengertian bioteknologi perikanan
            2.      Untuk mengetahui sejarah dari bioteknologi perikanan 
            3.      Untuk mengetahui manfaat dari bioteknologi perikanan
            4.      Untuk mengetahui penerapan dari bioteknologi perikanan
            5.      Untuk mengetahui teknik transforgen dalam bioteknologi perikanan
            6.      Untuk mengetahui peranan probiotik dalam bioteknologi perikanan
            7.      Untuk mengetahui contoh produk penerapan bioteknologi perikanan


BAB II
BAGIAN ISI

A.    Pengertian Bioteknologi Perikanan
Bioteknologi merupakan salah satu bidang sains di mana benda hidup digunakan untuk menghasilkan produk atau untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk manusia. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga mikro organisme seperti bakteria telah digunakan untuk menghasilkan kebaikan yang dapat digunakan manusia. Dalam bidang industri perobatan dan pertanian, bioteknologi membantu dalam menghasilkan suplemen makanan, untuk menguji diagnosa penyakit. Bioteknologi boleh digunakan untuk menyelesaikan masalah dan untuk membantu dalam penyelidikan berbagai permasalahan.
Bioteknologi perikanan adalah bioteknologi yang ditekankan khususnya pada bidang perikanan. Penerapan bioteknologi dalam bidang perikanan sangat luas, mulai dari rekayasa media budidaya ikan, hingga pascapanen hasil perikanan, pemanfaatan mikroba telah terbukti mampu mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman untuk digunakan sebagai media budidaya ikan (Wisnuwati, 2018).

B.     Sejarah Bioteknologi Perikanan
Bioteknologi perikanan adalah bioteknologi yang ditekankan khususnya pada bidang perikanan. Pada pascapanen dari hasil perikanan, bioteknologi ini mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi hingga dihasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Sejak abad ke 11 manusi sebetulnya menggunakan prinsip dasar ini. Pembuatan pangan seperti peda, kecap ikan, terasi ikan merupakan hasil bioteknologi. Ketahanan pangan ini merupakan isu global yang sedang ramai diperbincangkan, karena alasanya jelas pada tahun 2033 populasi manusia didunia ini akan meningkat sekitaran 12 miliar jiwa, sebagian besarnya penduduk tersebut berasal dari benua Asia. Berdasarkan hal tersebut diperkirakan pada tahun 2010 kebutuhan pangan penduduk Asia akan meningkat melampaui persedia yang ada. Pada kondisi ini membuat negara indonesia harus berkerja keras memenuhi kebutuhan pangannya, sehingga peristiwa kelangkaan pangan ini tidak perlu dialami dindonesia (Wisnuwati, 2018).
Bahkan pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan sudah mulai terlihat, salah satu komitmennya yaitu meningkatkan produksi ikan menjadi tiga kali lipat dari periode sebelumnya. Salah satu penyebab rendahnya produksi perikanan Indonesia adalah kemampuan mengolahnya, sekitar 20-25 persen produk perikanan tidak dapat dimanfaatkan karena mengalami pembusukan dan tidak diolah serta beberapa kendala yang dialami oleh pengusaha pengolah hasil perikanan untuk menekankan persentase ikan yang tidak dapat dimanfaatkan. Kendala tersebut yaitu mulai dari kondisi bahan baku, teknologi pengolahan, sumber daya manusia dan tingkat konsumsi ikan. Bioteknologi pengolahan hasil perikanan (BPHP) merupakan cabang bioteknologi pangan yang sudah lama diterpkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengolah hasil perikanan.

C.    Manfaat Bioteknologi Perikanan
Bioteknologi merupakan kajian ilmu tentang kehidupan makhluk hidup yang bersandar pada kemampuan dari kemajuan teknologi dimana memadukan pengetahuan alam khususnya makhluk hidup dengan teknologi. Dan bioteknologi perikanan merupakan perpaduan kemajuan teknologi dengan kehidupan makhluk hidup dalam sektor perikanan dimana peranananya sanagat luas dimulai dari reakayasa media budidaya perikanan hingga sampai pada pasca panen hasil perikanan.
Bioteknologi telah menciptakan ikan berkarakter genetis khas yang dihasilkan melalui rekayasa gen. Melalui rekayasa gen, dapat diciptakan ikan yang tumbuh cepat, warnanya menarik, dagingnya tebal, tahan penyakit dan sebagainya. Pada tahap pasca panen hasil perikanan, bioteknologi mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi hingga dihasilkan produk yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Dari bioteknologi perikanan dapat memudahkan manusia dalam memproduksi hasil perikanan menjadi lebih efektif dan efisien terlihat dalam hal seperti budidaya perikanan, pengolahan dan pemanfaatan limbah, pengolahan hasil perikanan, dan lain sebagainya, dalam arti sempitnya bioteknologi perikanan merupakan ilmu yang dibutuhkan di setiap rantai produksi dari hulu ke hilir.
Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan dan budidaya ikan. Manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan ikan budidaya, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan, meningkatkan kesehatan ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam.

D.    Bentuk Penerapan Bioteknologi Perikanan
Terdapat beberapa bioteknologi sederhana yang sudah diterapkan sejak lama seperti pemupukan kolam untuk meningkatkan ketersediaan pakan. Sedangkan yang lain merupakan teknologi maju yang memanfaatkan pengetahuan biologi molekul dan genetik seperti rekayasa genetik dan diagnosa penyakit melalui DNA. Tujuan utama penerapan bioteknologi genetik pada ikan adalah untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan. Namun bisa juga digunakan untuk meningkatkan daya tahan terhadap penyakit dan lingkungan. Menurut Wisnuwati, (2018) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa teknik bioteknologi yang sudah diterapkan pada ikan budidaya:
1.      Pembenihan-Selektif
    Pembenihan selektif, yang merupakan pembenihan ikan secara tradisional, pertama kali            dikembangkan pada ikan mas ribuan tahun yang lalu. Namun sampai sekarang pembenihan          selektif hanya diterapkan pada ikan untuk konsumsi seperti ikan nila, catfish, dan trout sehingga masih banyak ikan budidaya yang pembenihannya seperti di perairan umum. Program pembenihan secara selektif telah memberikan peningkatan hasil dan pendapatan yang setabil contohnya terdapat peningkatan tingkat pertumbuhan 5-20% pada ikan budidaya seperti Salmon, Nila dan catfish.
2.      Manipulasi
Manipulasi pada bentuk kromosom merupakan teknik yang bisa digunakan untuk menghasilkan organisme ‘triploid’ yaitu organisme dengan tiga bentuk kromosom dimana biasanya suatu organisme cuma memiliki dua bentuk. Triploid umumnya tidak bisa bereproduksi sehingga ada pemikiran bahwa energi yang dimiliki akan sepenuhnya digunakan untuk meningkatkan perkembangan suatu organisme walaupun belum ada bukti yang menguatkan pemikiran tersebut. Keuntungan triploid lebih terlihat pada fungsi sterilitasnya meskipun tidak mencapai 100%. Contohnya, tiram triploid tidak dapat memproduksi gonad sehingga dapat dipasarkan sepanjang tahun. Hal ini disebabkan produksi gamet (sel kelamin, ovum atau telur pada betina dan sperma pada jantan) membuat tiram yang matang gonad memiliki rasa yang tidak enak.
3.      Bioteknologi pada Rekayasa Genetika Ikan
Genetika merupakan salah satu ilmu dasar yang penting untuk menjelaskan berbagai pola pewarisan gen dalam populasi, genetik fenotip kualitatif dan kuantitatif yang mengekspresikan sifat unggul dan landasan teori dasar dari program seleksi ataupun program persilangan antara spesies atau famili. Gen dan kromosom ikan direkayasa untuk dimanfaatkan keterkaitannya dengan seleksi fenotip kuantitatif dan fenotip kualitatif bagi teknik breeding ikan untuk mendapatkan sifat-sifat superior yang diwariskan dari induk dengan seleksi gen unggul kepada keturunannya.
Penerapan bioteknologi modern pada hewan dimulai pada tahun 1980-an. Para penelitit genetik menyiisipkan gen ke tikus, tikus, babi dan ikan, untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih cepat, peningkatan daya tahan terhadap penyakit, dan efek lainnya. Meskipun beberapa sifat-sifat unggul da[at dicapai melalui metode seleksi secara tradisional, rekayasa genetika dapat menghasilkan efek yang lebih besar (atau lebih dramatis) dari sifat potensial organisme.
Pada tahun 1983, sampul majalah Science, salah satu jurnal ilmiah yang paling banyak dibaca di Amerika Serikat, menampilkan foto tikus besar hasil rekayasa genetic dengan laju pertumbuhan yang cepat. Tak lama setelah itu, para ilmuwan di Cina melaporkan kali pertama kesuksesan penyisipan gen hormon pertumbuhan pada ikan. Peristiwa ini memunculkan perdebatan substansial dan kepentingan para ahli biokimia, genetika, para ilmuwan akuakultur, dan pengusaha swasta, menyebabkan penelitian transgenik lebih banyak dilakukan di laboratorium seluruh dunia, sebagian berfokus pada ikan dan organisme air lainnya. Dalam arti luas, modifikasi genetik merujuk pada perubahan genetik organism yang tidak ditemukan di alam, termasuk hibrida (keturunan orang tua dari spesies yang berbeda atau sub-spesies).
Pengembangan ikan transgenik dimana para ilmuwan menggunakan teknik DNA rekombinan untuk memasukkan materi genetik dari satu organisme ke dalam genom ikan atau organisme air lainnya.Berkembanganya kemampuan memodifikasi hewan secara genetic mengakibatkan pesatnya penelitian tentang rekayasa genetic organisme akuatik (genetically modified organism). Hewan air, terutama ikan tumbuh dalam sistem akuakultur, menarik perhatian penelitian yang signifikan karena dua alasan utama. Pertama, ikan bertelur dalam jumlah besar dan telur yang lebih mudah dimanipulasi, sehingga memudahkan bagi para ilmuwan untuk memasukkan DNA baru ke dalam telur ikan. Kedua, budidaya merupakan salah satu sektor yang memproduksi makanan tercepat tumbuh secara global, menunjukkan meningkatnya permintaan produk akuakultur. Sejak tahun 1984, budidaya komersial telah berkembang pada tingkat tahunan hampir 10 persen, dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan 3 persen untuk daging ternak dan tingkat 1,6 persen pertumbuhan untuk penangkapan. Sementara pertumbuhan telah terkonsentrasi di Asia, perikanan budidaya juga merupakan salah satu sektor yang paling cepat berkembang dengan total nilai produk yang dijual meningkat dari $ 45.000.000 pada tahun 1974 menjadi lebih dari $ 978.000.000 pada tahun 1998 . Bahkan, budidaya komersial memproduksi hampir semua ikan lele dan ikan trout serta sekitar satu-setengah dari udang dan salmon di Amerika Serikat.

4.      Bioteknologi pada Media Budidaya Ikan
Bioteknologi merupakan kajian ilmu tentang kehidupan makhluk hidup yang bersandar pada kemampuan dari kemajuan teknologi dimana memadukan pengetahuan alam khususnya makhluk hidup dengan teknologi. Dan bioteknologi perikanan merupakan perpaduan kemajuan teknologi dengan kehidupan makhluk hidup dalam sektor perikanan dimanaperanananya sanagat luas dimulai dari reakayasa media budaidaya perikanan hingga sampai pada pasca panen hasil perikanan.
Bioteknologi perikanan dapat memudahkan manusia dalam memproduksi hasil perikanan menjadi lebih efektif dan efisien terlihat dalam hal seperti budidaya perikanan, pengolahan dan pemanfaatan limbah, pengolahan hasil perikanan, dan lain sebagainya, dalam arti sempitnya bioteknologi perikanan merupakan ilmu yang dibutuhkan di setiap rantai produksi dari hulu ke hilir. Media dari bioteknologi perikanan salah satunya berupa mikroba yang telah terbukti mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman untuk digunakan sebagai media budidaya ikan. Pada tahap pasca panen hasil perikanan, bioteknologi mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi sehingga menghasilkan produk yang aman untuk dkonsumsi dan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan memenuhi kebutuhan hidup manusia. Contoh contoh produk dalam bidang perikanan yang dihasilkan melalui konsep dan prinsip bioteknologi dengam menggunakan mikroba. Seperti peda, kecap ikan dan terasi ikan. Mikroba mempunyai peranan khusus dalam kinerja hasil dari bioteknologi perikanan itu sendiri. Berikut peranan mikroba tersebut:
a.      Penghancur limbah organik,
Dalam segi ekologis perairan limbah merupakan faktor penghambat dalam dunia perikanan, terlebih lagi itu merupakan limbah yang sulit dilakukan oleh tangan manusia itu sendiri. Mikroba dalam hal ini, dapat menjadi dekomposer positif dengan mengurai limbah menjadi bahan yang ramah lingkungan.
b.      Recycling hara,
Di dunia perikanan hara merupakan nutrien dan dalam rantai makanan, hara merupakan faktor primer dalam kelangsungan produktivitas rantai produksi perikanan. Namun, hara dapat menjadi zat yang sangat beracun apabila dalam kuantitas yang sangat banyak dan beresiko menyebabkandepletion oxygen (penurunan kadar oksigen) di perairan. Mikroba dalam hal ini dapat membantu percepatan unsur hara ini untuk mendaur ulang hara tersebut menjadi energi fosil walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang, namun proses ini tidak lepas dari peranan mikroba tersebut.
c.       Merangsang pertumbuhan,
Dalam budidaya terutama, mikroba dapat merangsang pertumbuhan untuk cepat tumbuh dan berkembang menjadi potensi produksi yang sangat besar. Dengan memberikan mikroba diharapkan komoditas perikanan mampu cepat tumbuh dan bereproduksi dengan hasil yang diharapkan.
d.      Biokontrol patogen
Mikroba dalam hal ini banyak berperan dalam pengolahan hasil perikanan dimana hasil perikanan pasca panen yang menjadi keresahan masyarakat dalam hal pendistribusian hasil perikanan mereka karena sifat alami dari produk/komoditas perikanan sendiri yang cepat busuk, namun bioteknologi hal ini menjawab keresahan masyarakat dengan mendatangkan mikroba sebagai kompetitor dari bakteri patogen tersebut sehingga pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dapat terkontrol dan diredam kuantitasnya dengan mengisolasi bakteri patogen, agar outputnya produk perikanan dapat tahan lama dan pendistribusiannya dapat lebih lancar terlebih lagi yaitu sehat dan higienis.Rekayasa yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan mikroba sebagai agen bioteknologi yaitu Dengan menggunakan teknik transgenik pada ikan yang telah dimulai dengan mengintroduksi gen tertentu kepada organisme hidup lainnya. serta mengamati fungsinya secara in vitro. Dalam teknik ini, gen asing hasil isolasi di injeksi secara makro ke dalam telur untuk memproduksi telur ikan yang mengandung gen asing tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan ikan transgenik, yaitu:
1)      isolasi gen (clone DNA) yang akan diinjeksi pada telur.
2)      Identifikasi gen pada anak ikan yang telah mendapatkan injeksi gen asing tadi.
3)      Keragaman dari turunan ikan yang diinjeksi gen asing tersebut.
4)      Produk perikanan yang memanfaatkan mikroba sebagai agen bioteknologi dan peranannya dalam proses produksi yaitu Bekasam, bahan baku yang digunakan pada umumnya adalah ikan air tawar. Proses pengolahan ini umumnya menggunakan bahan-bahan tambahan untuk berhasilnya fermentasi misalnya sumber karbohidrat, dan berjalan anaerobik, karbohidrat tersebut akan diuraikan menjadi gula sederhana dan selanjutnya menjadi alkohol dan asam, basil fermentasi inilah yang akan menjadi bahan pengawet ikan dan juga memberi rasa dan aroma khas. Karbohidrat yang ditambahkan pada umumnya nasi, beras sangrai dan tape ketan.Yang kedua adalah terasi ikan, mikroorganisme yang berperan dalam proses pembuatan terasi yaitu bakteri Lactobacillu dan bakteri mesofil. Mikroorganisme dimanfaatkan untuk mengubah laktosa menjadi asam laktat, Mikroorganisme digunakan pada saat pematangan yaitu dalam proses pembentukan aroma khas terasi.

E.     Teknik Transfer Gen
1.      Mikroinjeksi
Teknik mikroinjeksi yang dikembangkan dari teknik produksi tikus transgenik merupakan teknik umum yang digunakan dalam introduksi gen pada ikan. Gen yang akan diintroduksi ke sel enggunakan gelas pipet yang sangat kecil (diameter ujung jarum sekitar 0,05-0,15 mm). Pekerjaan ini dilakukan di bawah mikroskop dengan bantuan sebuah mikromani-pulator pengatur gerak jarum suntik dan volume larutan DNA yang di suntikkan. Namun demikian, terdapat dua masalah dalam pengaplikasian teknik ini pada ikan (Yoshizaki, 1998). Masalah pertama adalah inti telur ikan yang telah dibuahi relatis sulit diidentifikasi di miskoskop karena ukurannya kecil dan volume sitoplasma besar (Hacket, 1993). Korion telur sangat keras dan sulit ditembus oleh mikropipet merupakan masalah kedua yang dihadapi pada ikan.
Dalam mengatasi masalah tersebut, ada beberapa cara telah dikembangkan untuk beberapa spesies berbeda. Beberapa penelitian menyuntikan gen ke inti telur medaka yang belum matang. Telur yang belum matang tersebut diinkubasi secara in vitro. Pada fase ini inti telur (disebut sebagai germinal vesicle) sudah kelihatan dan akan matang secara spontan dengan cara in vitro. Sebagai tambahan, telur medaka sangat keras setelah dibuahi sehingga penyuntikan pada saat tersebut dengan korion yang lembut akan lebih mudah. Akan tetapi, induksi pematangan telur secara in vitro memerlukan prosedur yang rumit dan membutuhkan waktu relatif lama pada spesies tertentu. Oleh karena itu, kelompok peneliti membuat ikan transgenik dengan cara menyuntikan gen dengan jumlah copy yang banyak ke sitiplansma telor yang telah dibuahi sebagai alternatif penyuntikan ke inti telur.
2. Elektroforensis
Metode lain yang juga populer digunakan dalam pembuatan ikan transgenik adalah elektroforensis. Prinsip metode ini adalah membuat reparable-holes pada membran sel dengan bantuan aliran listrik yang bergetar (electric pulse). Sel disuspensi dalam larutan DNA, dan larutan ini dapat masuk ke sel melalui lubang yang terbentuk. Pada awalnya, metode ini dikembangkan untuk kultur sel, namun demikian teknik ini dapat juga diaplikasikan untuk telur sperma ikan.
Teknik elektroforensis telah digunakan dalam beberapa spesies ekonomis penting seperti channel catfish, carp (Powers et al, 1992) dan salmon (Sin et al, 1993). Menurut Powers et al (1992), memproduksi ikan transgenc channel catfish dan caro dengan melakukan elektroforensis menggunakan telur yang telah dibuahi. Dalam beberapa kasus, tingkat kelangsungan hidup dan transformasi yang diperoleh dengan elektroforensis tidak setinggi dengan level yang diperoleh dengan teknik mikroinjeksi. Baru-baru ini, laboratorium kami telah mengembangkan teknik elektroforensis ini untuk memperoleh hasil yang lebih baik dengan menggunakan sperma yang telah direhidrasi (Kang et al, 1999).
Pertama-tama sperma ikan mas dihidrasi dalam larutan hiperosmotik dan dilanjutkan dengan rehidrasi dengan larutan hyposmotik yang mengandung DNA untuk mengembalikan tekanan osmotic cauran seminal ke kondisi awal. Elektroforensis dilakukan pada saat rehidrasi. Tingkat keberhasilan transfer yang dianalisis menggunakan ikan umur 30 hari adalah sekitar 60%, sedangkan teknik elektroforensis yang biasa pada kondisi isotonic hanya 20%. Hasill ini menunjukkan bahwa elektroforensis selama rehidrasi dapat meningkatkan penyerapan DNA yang juga berarti meningkatkan frekuensi transfer gen. Meskipun teknik ini belum sempurna, hasil syang diperoleh menunjukkan bahwa cara ini cukup efektif. Penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat keberhasilan yang lebih baik dengan metode ini.
3. Metode Alternatif
Kedua metode trans gen yang dipaparkan diatas telah digunakan secara rutin pada ikan. Akan tetapi akan menghadapi masalah bila menggunakan ikan yang perkembangan embrionya terjadi didalam tubuh induknya seperti pada gapi, platy dan swordtial. Juga, umumnya spesies Crustasea yang penting untuk akuakultur seperti udang dan lobster tidak elepaskan telurnya yang baru terbuahi. Akibatnya, transfer gen tidak bisa dilakukan dengan cara mikroinjeksi atau elektroforensis. Alternatif metode transfer gen untuk spesies seperti ini telah dikembangkan oleh Burns et al (1993) dengan menggunakan banuan sebuah vektor yang dikenal sebagai replicateion-detective pantropic retrociral. Vektor ini telah menunjukkan hasil yang efektif dalammenginjeksi sel lines ikan, kadal air dan kodok (Xenopus) dan nyamuk (Burns et al, 1993 ; Matsubara et al 1996), dan telur ikan yang baru dibuahi seperti medeka, zebra, dan kerang. Sukses menghasilkan transgen, baru-baru ini juga Sarmasik et al (2001) telah berhasil memproduksi ikan transgenik dengan menyuntukan vektor tersebut ke daerah sekitar gonad ikan gapi (Poecilia lucidai) dan crayfish (Procambarus clarkii).



F.     Peranan Probiotik dalam Bioteknologi Perikanan
Pada bioteknologi perikanan, untuk meningkatkan produktifitas sektor perikanan diperlukan budidaya secara intensif yaitu dengan pemberian pakan yang berkualitas dan jumlah yang cukup, pencegahan dan penanganan penyakit pada ikan, serta manajamen kolam dengan baik. Salah satunya yaitu dengan menggunakan probiotik.
Istilah probiotik dicetuskan pertama kali untuk mendeskripsikan senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menstimulir pertumbuhan mikroorganisme lain. Probiotik dijadikan sebagai bahan pakan tambahan pada ikan. Menurut Shortt (1999), terdapat kriteria dalam pemilihan probiotik agar mendapatkan pengaruh positif pada inagnya yaitu:
1.   Spesies probiotik tidak bersifat pathogen
2.   Toleran terhadap asam dan garam empedu
3.   Mampu beradaptasi dengan lingkungan (fisika dan kimia) dan hewan inang
4.   Mampu hidup dan bermetabolisme di saluran usus hewan inang.
Bakteri probiotik yang umumnya digunakan yaitu bakteri gram positif yaitu Lactobacillus sp dan Bacillus yang merupakan jenis bakteri asam laktat. Menurut Naidu dan Clemens (2002) menyatakan bahwa bakteri asam laktat dengan aktivitas probiotiknya mampu mengatur ekosistem saluran perncernaan. Aktivits probiotik terbagi menjadi 3 yaitu nutrisi, fisiologi, dan efek antimikroba.
Pada nutrisi, probiotik memproduksi enzim untuk membantu metabolisme komponen makanan (katalase), sintesis beberapa vitamin, dan menghilangkan racun metabolit komponen makanan dalam usus. Sehingga dalam hal ini, probiotik dapat membantu ikan untuk memacu pertumbuhannya. Pemberian probiotik dapat dilakukan dengan langsung dicampur ke dalam pakan. Karena akan termakan oleh ikan dan dapat masuk ke dalam pencernaan ikan.
Pada fisiologi meliputi kemampuan menjaga keseimbangan komposisi mikroflora usus dan menstimulasi system kekebalan usus. Efek mikroba yaitu memperbaiki ketahanan terhadap bakteri pathogen. Dalam tubuh ikan, mekanisme kerja probiotik untuk mencegah penyakit yaitu dengan menghasilkan suatu zat antibakteri yang dapat menekan pertumbuhan bakteri lain penyebab penyakit.
Selain itu, probiotik dapat meningkatkan kualitas air. Probiotik dalam air dapat berfungsi sebagai penurun kadar zat zat yang dapat membahayakan ikan, seperti itrat dan nitrit. Sehingga ikan dapat tumbuh sehat di dalam kolam.
G.    Produk Bioteknologi di Bidang Perikanan
Bioteknologi perikanan dapat memudahkan manusia dalam memproduksi hasil perikanan menjadi lebih efektif dan efisien terlihat dalam hal seperti budidaya perikanan, pengolahan dan pemanfaatan limbah, pengolahan hasil perikanan, dan lain. Media dari bioteknologi perikanan salah satunya berupa mikroba yang telah terbukti mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman untuk digunakan sebagai media budidaya ikan. Pada tahap pasca panen hasil perikanan, bioteknologi mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi sehingga menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi dan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Menurut Hiasrofi (2015) yang menyatakan bahwa adapun Produk dalam bidang perikanan yang dihasilkan melalui konsep dan prinsip bioteknologi dengam menggunakan mikroba. Seperti peda, kecap ikan dan terasi ikan. Mikroba mempunyai peranan khusus dalam kinerja hasil dari bioteknologi perikanan itu sendiri. Produk perikanan yang memanfaatkan mikroba sebagai agen bioteknologi dan peranannya dalam produksi pasca panen anatar lain:
1.      Terasi
Proses pembuatan terasi dilakukan secara fermentasi. Selama fermentasi protein dihidrolisis menjadi turunan-turunannya, seperti pepton, pe[tida dan asam-asam amino. Fermentasi juga menghasilkan ammonia yang menyebabkan terasi berbau merangsang. Di dalam masakan, terasi digunakan sebagai penyedap dan menimbulkan cita rasa. Adapun proses pembutaan terasi adalah sebagai berikut:
a.       Udang rebon atau ikan teri dicuci  hingga bersih, kemudian dijemur sampai kering dibawah sinar matahari. Penjemuran dilakukan selama 2-3 hari.
b.      Bahan tersebut kemudian dicampur dengan garam sebanyak 13% fan tepung sambil diremas-remas. Pada terasi bermutu rendah sering ditambahkan bahan-bahan lain supaya volumenya meningkat.
c.       Kedalam campuran ini dtambahkan sedikit air dan diaduk terus menerus sampai membentuk adonan yang kompak dan padat. Adonan ini kemudian dijemur dalam bentuk lempengan-lempangan kecil selama 3-4 hari.
d.      Setelah selesei masa penjemuran, lempengan-lempengan adonan tadi dirtumbuk halus dan diberi sedikit air sampai membentuk adonan yang menggumpal dan kokoh. Adonan tersebut dibungkus dengan dun pisang kering/plastik
2.      Peda
Peda merupakan produk fermentasi dengan bahan baku ikan. Pada umumnya dibuat untuk ikan yang berkadar lemak tinggi. Selama atau pada waktu fermentasi akan terjadi perubahan kimia antara lain proses reaksi pada lemak yang memberikan cita rasa khas. Jenis ikan yang dapat diolah menjadi ikan peda antara ain ikan Kembung, ikan Layang, Selar, ikan Mas, Tawes dan ikan Mujair. Tetapi ternyata hasil yang paling memuaskan adalah ikan Kembung, baik Kembung betina maupun jantan. Sedangkan untuk jenis ikan lainnya memiliki cita rasa yang masih kalah dengan ikan Kembung bila diolah menjadi peda. Berdasarkan pembuatannya dikenal dua jenis peda, yaitu peda putih dan peda merah. Perbedaan tersebut dikarenakan bahan baku yang digunakan.
3.      Bekasam
Bahan baku yang digunakan untuk membuat bekasam pada umumnya adalah ikan air tawar. Proses pengolahan ini umumnya menggunakan bahan-bahan tambahan untuk berhasilnya fermentasi misalnya sumber karbohidrat, dan berjalan anaerobik, karbohidrat tersebut akan diuraikan menjadi gula sederhana dan selanjutnya menjadi alkohol dan asam, basil fermentasi inilah yang akan menjadi bahan pengawet ikan dan juga memberi rasa dan aroma khas. Karbohidrat yang ditambahkan pada umumnya nasi, beras sangrai dan tape ketan.
4.      Petis
Petis merupakan produk mirip kecap, tetapi umumnya lebih kental, dibuat dari pemakatan air rebusan ikan dalam pembuatan pindang atau pembuatan ebi. Petis merupakan bahan makanan yang umunya digunakan sebagai perangsang makanan (bumbu masak) yang sedap, bergizi dan mempunyai nilai yang lebih tinggi
5.      Kecap ikan
Kecap ikan adalah kecap yang terbuat dari ikan. Adapun proses pembutannya adalah sebagai berikut :




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah di sampaikan dapat disimpulkan bahwa bioteknologi adalah bidang sains yang berisikan pemanfaatan makhluk hidup untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kelangsungan hidup manusia, seperti pemanfaatan mikroorganisme ataupun rekayasa genetika. Bioteknologi sekarang sudah diaplikasikan ke segala macam bidang industri seperti industri kesehatan, pertanian, peternakan serta perikanan. Dalam bidang perikanan sendiri, bioteknologi dimanfaatkan untuk menambah perolehan pangan yang berasal dari perikanan. Bioteknologi di bidang perikanan tak hanya pemanfaatan mikroorganisme sebagai suplemen makanan bagi ikan atau rekayasa genetika ikan yang dapat menghasilkan ikan atau menambah produksi atau jumlah ikan yang dipanen namun juga berguna dalam remediasi atau perbaikan lingkungan budidaya ikan itu sendiri dengan menambahkan mikrobamikroba tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

Hiasrofi, Aunurrofiqi. 2015. Bioteknologi Perikanan. Jember: Universitas Jember. (https://www.academia.edu/11496464/bioteknologi_perikanan)
Sin, F.Y.T., A.L. Bartley, S.P. Walker, I.L. Sin, J.E. Synmonds, L. Hewke & C.L Hopkins. 1993. Gene transfer in Chinook salmon (Oncorhynchus tshawytschai) by electroporating sperm in the presence of pRSV-LacZ DNA. Aquaticulture, 117:57-69.
Wisnuwati. 2018. Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan: Aplikasi Bioteknologi Perikanan dan Kelautan: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pertanian Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementrian Kependidikan dan Kebudayaan.
Yoshizaki, G. 1998. Gene transfer in the fish; applications to aquatculture. Symposium on molecular bioengineering of food animals 23-24 oct. 1998. Research for the futre program genetiic engineering of animal protein resources.

Penerapan Bioteknologi Hijau (Bioteknologi Pupuk Hayati)

Assalamu'alaikum warhamatullahi wabarakatuh

BAB I
PENDAHULUAN
             A.   Latar Belakang
Lahan Indonesia sudah mengalami degradasi, maka perlu adanya pupuk yang dapat mengembalikan kesuburan tanah. Oleh karena itu, perlu adanya usaha dan strategi yang tepat untuk menyuburkan tanah kembali diantaranya pemanfaatan pupuk hayati (biofertilizer) (Fadiluddin, 2009).
Pemanfaatan mikroorganisme yang berguna perlu dikembangkan dalam usaha mengurangi penggunaan pupuk anorganik (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008). Pemanfaatan pupuk hayati tersebut diharapkan tanaman tumbuh lebih sehat, bebas hama dan penyakit, daya hasil lebih tinggi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan, pertanian organik muncul sebagai sebuah alternatif yang menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin hidup sehat. Pertanian organik sebagai suatu sistem bertani yang selaras dengan alam, mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian suatu aliran yang siklik dan seimbang. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi, baik di negara maju maupun negara berkembang. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik ini, seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestarianya dan dapat mengonsumsi produk pertanian yang relatif lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan (Gunalan, 1996).
Usaha peningkatan produksi tanaman  tanaman perkebunan lainnya maka mutu intensifikasi perlu untuk ditingkatkaan. Salah satu usaha yang dapat ditempuh yaitu dengan  meningkatkan  efisiensi penggunaan pupuk. Respon tanaman terhadap penggunaan pupuk akan menigkat bila menggunakan jenis pupuk, dosis, waktu serta cara pemberian yang tepat. Pemupukan bertujuan untuk memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan unsur hara atau zat hara kedalam tanah yang langsung atau tidak langsunng dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Pemupukan juga memperbaiki pH tanah dan memperbaiki lingkungan tanah sebagai tempat tumbuh tanaman. Dalam hal ini pupuk yang mengandung mikroorganismme lah yang mampu memperbaiki sifat –sifat tanah (Lingga et al., 2009).
Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak, tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan, sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Mikroba yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah, disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah(Linggaet al., 2009).
Pemupukan dapat dikatakan berhasil baik bila kita mengetahui unsur hara apa yang kurang terdapat dalam tanah atu unsur makan apa yang dibutuhkan oleh tanaman. Gejala kekurangan unsur hara dapat dilihat dengan tidak normalnya petumbuhan tanaman. Disamping mengetahui unsur hara apa yang kurang, perlu juga mengetahui berapa jumlah yang kurang itu sehingga kita bisa memberikan dalam jumlah yang benar dan efektif (Roesmarkam & Yuwono, 2002).
Bahan organik juga berperan sebagai sumber makanan dan energi mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman. Jadi penambahan bahan organik disamping sebagai sumber hara bagi tanaman, sekaligus sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba(Roesmarkam & Yuwono, 2002).
Penggunaan pupuk organik saja, tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan. Oleh karena itu sistem pengolahan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik atau pupuk hayati dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan perlu digalakkan. Hanya dengan cara ini keberlanjutan produksi tanaman dan kelestarian lingkungan dapat dipertahankan (Roesmarkam & Yuwono, 2002).

 B. Rumusan Masalah
                         Adapun perumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan Bioteknologi tanah ?
2. Apa yang dimaksud dengan pupuk hayati ?
3. Sejarah pupuk hayati ?
4. Apa fungsi pupuk hayati ?
5. Bagaimana kualitas pupuk hayati ?
6. Apa jenis-jenis pupuk hayati yang telah di kenal di Indonesia?
7. Bagaimana teknik dasar produksi pupuk hayati ?
8. faktor penentu penerapan pupuk hayati dilapangan ?
9. Penelitian teruptodate tentang pupuk hayati (5 tahun terakhir) ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini, yaitu:
1. Mengetahui pengertian bioteknologi
2. Mengetahui pengertian pupuk hayati.
3. Mengetahui sejarah pupuk hayati
4. Mengetahui apa fungsi pupuk hayati
5. Mengetahui kualitas pupuk hayati
6. Mengetahui jenis-jenis pupuk hayati yang telah di kenal di Indonesia
7. Mengetahui teknik dasar produksi pupuk hayati
8. Mengetahui faktor penentu penerapan pupuk hayati dilapangan
9. Mengetahui Penelitian terbaru tentang pupuk hayati (5 tahun terakhir)

BAB II
BAGIAN ISI

A.   Bioteknologi Tanah
Bioteknologi adalah pemanfaatan system yang hidup dan organisme untuk mengembangkan atas membuat suatu produk yang dapat guna, atau aplikasi berbagai teknologi yang menggunakan sistem yang hidup, makhluk hidup ataupun yang dihasilkannya untuk membuat atau memodifikasi hasilnya atau proses untuk tujuan tertentu.
Menurut Hanafiah (2014), mengutarakan bahwa bioteknologi tanah merupakan suatu cara menggunakan organisme tanah (bakteri, jamur, cacing tanah dan berbagai organisme lainnya termasuk tumbuh-tumbuhan baik secara langsung (cara ini disebut cara konvensional) atau menggunakan rekayasanya (tanaman unggul, biota unggul atau potensil) dalam upaya mencapai manfaat tertentu dalam bidang pertanian dan lainnya (cara aplikasinya yang kedua ini disebut sebagai cara modern). Bioteknologi tanah (soil biotechnology) dalam pemanfaatan atau aplikasinya merupakan suatu teknologi yang ramah lingkunga, disebut sebagai soft technology.

B. Pupuk Hayati
Pupuk adalah sesuatu bahan (organik dan anorganik) yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman yang berguna untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati merupakan inokulum yang mengandung sel-sel hidup atau latent dari berbagai jenis mikrobia yang efisien yang bisa hidup bersimbiosa degan tanaman ataupun yang bisa hidup bebas ataupun berassosiasi, yang mempunyai kemampuan memfiksasi N2 dari udara atau melarutkan/memobilisasi unsur hara fosfat dari bentuk yang tidak bisa dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk yang bisa dimanfaatkan tanaman, merombak bahan organik termasuk sumber-sumber organik lainnya (seperti pupuk kandang) yang mempercepat proses-proses mikrobiologi tertentu dalam tanah untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara yang dapat diassimilasikan oleh tanaman (Hanafiah,2014).
Pupuk hayati (biofertilizer) merupakan pupuk yang mengandung 9 konsorsium mikroba dan bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman agar menjadi lebih baik. Mikroba yang digunakan yaitu (1) bakteri fiksasi Nitrogen non simbiotik Azotobacter sp. dan Azospirillum sp.; (2) bakteri fiksasi Nitrogen simbiotik Rhizobium sp.; (3) bakteri pelarut Fosfat Bacillus megaterium dan Pseudomonas sp.; (4) bakteri pelarut Fosfat Bacillus subtillis; (5) mikrobadekomposer Cellulomonas sp.; (6) mikroba dekomposer Lactobacillus sp; danmikroba dekomposer Saccharomyces cereviceae (Suwahyono, 2011).
Istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Pemakaian istilah ini relatif baru dibandingkan dengan saat penggunaan salah satu jenis pupuk hayati komersial pertama di dunia yaitu inokulan Rhizobium yang sudah lebih dari 100 tahun yang lalu.
Pupuk hayati dapat didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah.Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis.
Secara simbiosis berlangsung dengan kelompok tanaman tertentu atau dengan kebanyakan tanaman, sedangkan nonsimbiotis berlangsung melalui penyerapan hara hasil pelarutan oleh kelompok mikroba pelarut fosfat, dan hasil perombakan bahan organik oleh kelompok organisme perombak. Kelompok mikroba simbiosis ini terutama meliputi bakteri bintil akar dan cendawan mikoriza. Kelompok cendawan mikoriza yang tergolong ektomikoriza juga hanya bersimbiosis dengan berbagai tanaman kehutanan. Kelompok endomikoriza yang akan dicakup dalam buku ini juga hanya cendawan mikoriza vesikulerabuskuler, yang banyak mengkolonisasi tanaman-tanaman pertanian.
Kelompok organisme perombak bahan organik tidak hanya mikrofauna tetapi ada juga makrofauna (cacing tanah). Pembuatan vermikompos melibatkan cacing tanah untuk merombak berbagai limbah seperti limbah pertanian, limbah dapur, limbah pasar, limbah ternak, dan limbah industri yang berbasis pertanian.Kelompok organisme perombak ini dikelompokkan sebagai bioaktivator perombak bahan organik.
Sejumlah bakteri penyedia hara yang hidup pada rhizosfir akar (rhizobakteri) disebut sebagai rhizobakteri pemacu tanaman (plant growth promoting hizobacteria). Kelompok ini mempunyai peranan ganda di samping (1) menambat N2, (2) menghasilkan hormon tumbuh (seperti IAA, giberelin, sitokinin, etilen, dan lain-lain), (3) menekan penyakit tanaman asal tanah dengan memproduksi siderofor glukanase, kitinase, sianida, dan (4) melarutkan P dan hara lainnya (Cattelan et al., 1999). Sebenarnya tidak hanya kelompok ini yang memiliki peranan ganda (multifungsi) tetapi juga kelompok mikroba lain seperti cendawan mikoriza.
Cendawan mikoriza selain dapat meningkatkan serapan hara, juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit terbawa tanah, meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan, menstabilkan agregat  tanah, dan sebagainya, tetapi berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ada peranan sebagai penyedia hara lebih menonjol daripada peranan-peranan lain. Pertanyaan yang mungkin timbul ialah apakah multifungsi suatu mikroba tertentu apabila digunakan sebagai inokulan dapat terjadi secara bersamaan, sehingga tanaman yang diinokulasi dapat memperoleh manfaat multifungsi mikroba tersebut. Kebanyakan kesimpulan tersebut berasal dari penelitian-penelitian terpisah, misalnya pengaruh terhadap serapan hara pada suatu percobaan, dan pengaruh terhadap toleransi kekeringan pada percobaan lain. Mungkin sekali fungsi-fungsi tersebut hanya dimiliki spesies tertentu pada suatu kelompok fungsional tertentu, atau mungkin juga fungsi-fungsi ini hanyadimiliki oleh strain atau strain-strain tertentu dalam suatu spesies, atau kondisi lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh.
Subha Rao (1982), menganggap sebenarnya pemakaian inokulan mikroba lebih tepat dari istilah pupuk hayati. Ia sendiri mendefinisikan pupuk hayati sebagai preparasi yang mengandung sel-sel dari strain-strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfatatau selulolitik yang digunakan pada biji, tanah atau tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah mikroba tersebut dan mempercepatproses mikrobial tertentu untuk menambah banyak ketersediaan hara dalam bentuk tersedia yang dapat diasimilasi tanaman.
FNCA Biofertilizer Project Group (2006), mengusulkan definisi pupuk hayati sebagai substans yang mengandung mikroorganisme hidup yang mengkolonisasi rizosfir atau bagian dalam tanaman dan memacu pertumbuhan dengan jalan meningkatkan pasokan ketersediaan hara primer dan/atau stimulus pertumbuhan tanaman target, bila dipakai pada benih, permukaan tanaman, atau tanah.Pengertian pupuk hayati pada buku ini lebih luas daripada istilah yang dikemukakan oleh Subha Rao (1982) dan FNCA Biofertilizer Project Group (2006), mereka hanya membatasi istilah pupuk hayati pada mikroba, sedangkan istilah yang dipakai pada buku ini selain melibatkan mikroba juga makrofauna seperti cacing tanah.Bila inokulan hanya mengandung pupuk hayati mikroba, inokulan tersebut dapat juga disebut pupuk mikroba (microbial fertilizer).
Mikroorganisme dalam pupuk mikroba yang digunakan dalam bentuk inokulan dapat mengandung hanya satu strain tertentu atau monostrain tetapi dapat pula mengandung lebih dari satu strain atau multistrain. Strain-strain pada inokulanmultistrain dapat berasal dari satu kelompok inokulasi silang (cross-inoculation) atau lebih.Pada mulanya hanya dikenal inokulan yang hanya mengandung satu kelompok fungsional mikroba (pupuk hayati tunggal), tetapiperkembangan teknologi inokulan telah memungkinkan memproduksi inokulan yang mengandung lebih dari satu kelompok fungsional mikroba.Inokulan-inokulan komersial saat ini mengandung lebih dari suatu spesies atau lebih dari satu kelompok fungsional mikroba. Karena itu Simanungkalit dan Saraswati (2006), memperkenalkan istilah pupuk hayati majemuk untuk pertama kali bagi pupuk hayati yang mengandung lebih dari satu kelompok fungsional.

            C.   Sejarah Pupuk Hayati
Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian itu sendiri. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah mulai pada permulaan dari manusia mengenal bercocok tanam >5.000 tahun yang lalu. Bentuk primitif dari pemupukan untuk memperbaiki kesuburan tanah terdapat pada kebudayaan tua manusia di negeri-negeri yang terletak di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, di Cina, Amerika Latin, dan sebagainya. Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun.
Di Indonesia sebenarnya pupuk organik itu sudah lama dikenal para petani. Mereka bahkan hanya mengenal pupuk organik sebelum Revolusi Hijau turut melanda pertanian di Indonesia. Setelah Revolusi Hijau kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah karena di subsidi, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani sudah sangat tergantung kepada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian, ketika terjadi kelangkaan pupuk dan harga pupuk naik karena subsidi pupuk dicabut.
Tumbuhnya kesadaran akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan pada sebagian kecil petani telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. Pertanian jenis ini mengandalkan kebutuhan hara melalui pupuk organik dan masukan-masukan alami lainnya.
Penggunaan pupuk hayati untuk membantu tanaman memperbaiki nutrisinya sudah lama dikenal. Pupuk hayati pertama yang dikomersialkan adalah rhizobia, yang oleh dua orang ilmuwan Jerman, F. Nobbe dan L. Hiltner, proses menginokulasi benih dengan biakan nutrisinya dipatenkan. Inokulan ini dipasarkan dengan nama Nitragin, yang sudah sejak lama diproduksi di Amerika Serikat.
Pada tahun 1930-an dan 1940-an berjuta-juta ha lahan di Uni Sovyet yang ditanami dengan berbagai tanaman diinokulasi dengan Azotobacter. Bakteri ini diformulasikan dengan berbagai cara dan disebut sebagai pupuk bakteri Azotobakterin. Pupuk bakteri lain yang juga telah digunakan secara luas di Eropa Timur adalah fosfobakterin yang mengandung bakteri Bacillus megaterium. Bakteri ini diduga menyediakan fosfat yang terlarut dari pool tanah ke tanaman. Tetapi penggunaan kedua pupuk ini kemudian terhenti. Baru setelah terjadinya kelangkaan energi di dunia karena krisis energi pada tahun 1970-an dunia memberi perhatian terhadap penggunaan pupuk hayati. Pada waktu pertama kali perhatian lebih dipusatkan pada pemanfaatan rhizobia, karena memang tersedianya nitrogen yang banyak di atmosfer dan juga pengetahuan tentang bakteri penambat nitrogen ini sudah banyak dan pengalaman menggunakan pupuk hayati penambat nitrogen sudah lama.
Di Indonesia sendiri pembuatan inokulan rhizobia dalam bentuk biakan murni rhizobia pada agar miring telah mulai sejak tahun 1938 tapi hanya untuk keperluan penelitian. Sedangkan dalam skala komersial pembuatan inokulan rhizobia mulai di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sejak tahun 1981 untuk memenuhi keperluan petani transmigran (Jutono, 1982). Pada waktu itu inokulan diberikan kepada petani sebagai salah satu komponen dalam paket yang diberikan dalam proyek intensifikasi kedelai. Penyediaan inokulan dalam proyek ini berdasarkan pesanan pemerintah kepada produsen inokulan, yang tadinya hanya satu produsen saja menjadi tiga produsen. Inokulan tidak tersedia di pasar bebas, tetapi hanya berdasarkan pesanan, karena persaingan yang tidak sehat dalam memenuhi pesanan pemerintah ini, dan baru berproduksi kalau ada proyek, mengakibatkan ada produsen inokulan yang terpaksa menghentikan produksi inokulannya, pada hal mutu inokulannya sangat baik. Perkembangan penggunaan inokulan selanjutnya tidak menggembirakan. Baru setelah dicabutnya subsidi pupuk dan tumbuhnya kesadaran terhadap dampak lingkungan yang dapat disebabkan pupuk buatan, membangkitkan kembali perhatian terhadap penggunaan pupuk hayati.

             D.   Fungsi Pupuk Hayati
Pupuk hayati memiliki peran utama dalam budidaya tanaman, yakni sebagai pembangkit kehidupan tanah (soil regenerator) dan menyuburkan tanah kemudian tanah memberi makan tanaman (Feeding the soil that feed the plant). Mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk bekerja dengan cara (Simanungkalit RDM et al, 2006):
1.      Penambat zat hara yang berguna bagi tanaman. Beberapa mikroorganisme   berfungsi sebagai penambat N, tanpa bantuan mikroorganisme tanaman tidak bisa menyerap nitrogen dari udara. Beberapa berperan sebagai pelarut fosfat dan penambat kalium.
2.      Aktivitas mikroorganisme membantu memperbaiki kondisi tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.
3.      Menguraikan sisa-sisa zat organik untuk dijadikan nutrisi tanaman.
4.      Mengeluarkan zat pengatur tumbuh yang diperlukan tanaman sperti beberapa jenis hormon tumbuh.
5.      Menekan pertumbuhan organisme parasit tanaman. Pertumbuhan mikroorganisme baik akan berkompetisi dengan organisme patogen, sehingga kemungkinan tumbuh dan berkembangnya organisme patogen semakin kecil.

              E.  Kualitas Pupuk Hayati
Berdasarkan penelitian Simanungkalit, dkk dalam Pupuk hayati dan pembenah tanah yang diterbitkan Balitbang Pertanian tahun 2006, kualitas pupuk hayati bisa dilihat dari parameter berikut (Simanungkalit RDM, et al., 2006):
1.      Jumlah populasi mikroorganisme dimana jumlah mikroorganisme hidup yang terdapat dalam pupuk harus terukur. Bila jumlahnya kurang maka aktivitas mikroorganisme tersebut tidak akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman.
2.      Efektifitas mikroorganisme dimana tidak semua mikroorganisme memberikan pengaruh positif pada tanaman. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi parasit. Hanya mikroorganisme tertentu yang bisa dijadikan sebagai pupuk hayati. Sebagai contoh, jenis Rhizobium yang bisa menambat nitrogen, atau Aspergillus niger sebagai pelarut fosfat.
3.      Bahan pembawa dimana fungsinya sebagai media tempat mikroorganisme tersebut hidup. Bahan pembawa harus memungkinkan organisme tetap hidup dan tumbuh selama proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pupuk siap digunakan.
4.      Masa kadaluarsa dimana sebagai mana mahluk hidup lainnya mikroorganisme tersebut memiliki siklus hidup. Apabila mikroorganisme dalam pupuk hayati telah mati, pupuk tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pupuk hayati. Untuk memperpanjang siklus hidup tersebut, produsen pupuk biasanya mengemas mikroorganisme tersebut dalam keadaan dorman. Sehingga perlu aktivasi kembali sebelum pupuk diaplikasikan pada tanaman. Pupuk hayati yang benar seharusnya mencantumkan tanggal kadaluarsa dalam kemasannya.

  F.      Jenis-Jenis Pupuk Hayati yang telah di kenal di Indonesia
Sekarang ini dikenal dua jenis pupuk hayati berdasarkan kandungan mikroorganismenya, yakni pupuk hayati tunggal dan pupuk hayati majemuk. Pupuk hayati tunggal hanya mengandung satu jenis mikroba yang memiliki satu fungsi, semisal mikroba dari jenis Rhizobium sebagai penambat nitrogen. Sedangkan pupuk majemuk biasanya memiliki lebih dari tiga jenis mikroba (Simanungkalit RDM et al. 2006).
Jenis pupuk hayati majemuk dikembangkan belakangan ini. Di Indonesia pupuk hayati yang beredar dipasaran kecenderungannya dari jenis majemuk. Sedangkan di negara-negara maju lebih banyak jenis tunggal. Bentuk pupuk hayati yang beredar di pasaran biasanya berbentuk cair dan padat (tepung). Merek-merek yang terkenal diantaranya EM4, Sumber Subur dan M-Bio. Sedangkan yang berbentuk padat antara lain Evagrow dan Solagri.
Berikut ini macam-macam pupuk hayati yang banyak digunakan yaitu (Simanungkalit RDM et al.2006):
1.   Agronik Farming
Agronik Farming, yaitu pupuk hayati yang mengandung unsur hara makro berupa N, P, K dan unsur hara mikro berupa MgO, SO4, CaO. Mikroorganisme didalamnya besifat majemuk yaitu mikroba pelarut fosfat 6.650.000 cfu/g dan Azospirilium 1.000.000 cfu/g. Cara pemakaiannya yaitu dengan mencampurkan 1 cc pupuk tersebut ke dalam 1 liter air. Hal ini karena pupuk hayati ini cair dengan konsentrasi yang tinggi. Pupuk hayati ini memiliki keunggulan yaitu dengan meningkatkan hasil panen 20-50%, dapat, mengurangi biaya produksi hingga mencapai 30% dan tidak diperlukan lagi pupuk kimia (N,P,K).
2.   Pupuk Hayati EMAS (Enhanching Microbial Activities In The Soil)
Pupuk Hayati EMAS (Enhanching Microbial Activities In The Soil), yaitu pupuk hayati yang bersifat majemuk dengan memiliki 4 jenis mikroba didalamnya berupa Azospirilium lipoverum, Azotobacter beijerinckii, Aeromonas punctata, Aspergillus niger. Cara penggunaannya yaitu dengan melakukan kombinasi dengan 25-50 % dosis pupuk kimia. Penggunaan pupuk ini setara dengan menggunakan 100% pupuk hayati, sehingga penggunaan pupuk ini akan mengurangi biaya total pemupukan. Keunggulan dan manfaat dari pupuk ini yaitu mengandung 2 jenis bakteri pengikat N2 dari udara yang tumbuh di daerah rhizosfer yang dapat menambahkan N yang diserap akar tanaman, satu jenis bakteri pelarut P dapat meningkatkan jumlah hara yang dapat diserap akar tanaman baik yang berasal dari partikel pupuk maupun dari partikel tanah, satu jenis mikroba lagi yakni jamur dapat meningkatkan daya pegang tanah terhadap air dan hara tanah, serta dimana keempat jenis mikroba dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah dan dapat menghasilkan zat tumbuh yang berguna bagi akar tanaman.
3.   M-BIO
M-BIO merupakan kultur campuran mikroba yang menguntung dengan paten CMF-21 diantaranya bakteri pelarut Fosfat, Lactobacillus sp, Yeast, dan Azospirilium sp. kandungan pupuk ini yaitu N, P, K, S, Mo, Fe, Mn, dan B. Cara pemakaian pupuk ini yaitu dengan melakukan penyemprotan (penyiraman) dengan konsentrasi 1 ml M-BIO per liter air setiap minggu. Keunggulannya yaitu mempercepat dekomposisi bahan-bahan organik secara fermentasi, melatutkan P yang tidak tersedia menjadi bentuk P yang tersedia bagi tanaman, mengikat Nitrogen udara, menghasilkan berbagai enzim dan hormon sebagai senyawa bioaktif untuk pertumbuhan tanaman, dan menurunkan kadar BOD dan COD perairan dan menekan bau busuk.
4.   Pupuk Hayati Mikroriza Zeoriza.

             G.   Teknik Dasar Produksi Pupuk Hayati
            1. Tahap Pengisolasian Mikroorganisme
a.   Mengambil satu kg tanah yang berasal dari kedalaman 10-15 cm daripermukaan tanah. Pilih lokasi tanah subur yang bebas dari gangguan manusia, jauh dari pemukiman misalnya dari tanah perkebunan yang terawat dengan baik atau dari hutan yang lebat.
b.   Tanah tersebut dicampur dengan satu kg daun bambu kering, 5kg sekam padi dan 2kg dedak padi, diaduk rata sambil menuangkan air secukupnya,sekitar 5L.
c.   Masukkan campuran tersebut ke dalam wadah berdiameter 50 cm dengan ketinggian 30 cm. Buat lobang berdiameter 10 cm di tengah-tengah campuran.
d.  Tutup campuran tersebut dan letakkan di tempat yang teduh selama satu bulan. Aduk campuran tersebut 4 hari sekali dan membuat lobang ventilasi baru.
e.      Proses selesai setelah terbentuknya lapisan serat putih di permukaan campuran.   
           2. Tahap Peningkatan Jumlah Mikoorganisme
a.     Campuran kering mikroorganisme diaduk rata, kemudian diambil sebanyak 500 gram dan dimasukkan ke dalam jaring plastik.
b.   Campur 15 liter molase (produk sampingan dari hasil pengolahan gula tebu) atau 15 kg gula merah cair ke dalam wadah berisi 75 liter air tanah atau sumur yang bersih.
c.       Masukkan jaring plastik berisi campuran mikroorganisme tersebut ke dalam wadah.
d.       Aduk merata secara searah.
e.       Tutup wadah dan biarkan selama satu bulan di tempat yang teduh.
f.        Indikator kesuksesan tahap ini adalah larutannya berbau harum, jika berbau busuk berarti   prosesnya gagal. 
             3. Proses Produksi Pupuk Hayati
a.     Satu bagian larutan dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi 10 bagian air yang telah dicampur dengan satu bagian molase. Aduk merata secara searah.
b.   Masukkan potongan/rajangan daun-daun sayur-sayuran seperti daun singkong atau daun kangkung sebanyak sepertiga wadah, diaduk searah
kemudian ditutup.
c.     Biarkan campuran tersebut selama 15 hari di tempat yang teduh. 
             4. Cara Pengaplikasian
a.     Sekitar 100 ml cairan pupuk dimasukkan ke dalam 20 liter air untuk 40-50 tanaman.
b.    Siram ke tanaman dan ke permukaan tanah tempat tanaman tumbuh.
c.     Pengaplikasian dilakukan satu kali dalam satu minggu.
d.    Sebaiknya di awal penggarapan tanaman, diaplikasikan pupuk bokasi atau kompos sebagai pupuk dasar sekitar 500 g/m2.

H.      Faktor Penentu Penerapan Pupuk Hayati di Lapangan
Pupuk hayati merupakan salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi pemberian pupuk anorganik. Pupuk hayati merupakan pupuk yang berisikan mikroba hidup. Salah satu contohnya adalah Bion-Up produksi Laboratorium Biologi Tanah Unpad yang terdiri dari campuran isolat Azotobacter sp, Azospirilium sp, bakteri endofitik, dan mikroba (bakteri dan jamur) pelarut fosfat. Pemberian pupuk hayati dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Hal ini karena pupuk hayati mengandung Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) hidup (Setiawati et al., 2014).
Fungsi PGPR bagi tanaman yaitu membantu menyediakan hara bagi tanaman serta mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga. Pupuk hayati juga menghasilkan fitohormon yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh, bakteri pelarut fosfat (BPF) seperti Bacillus sp dan Pseudomonas sp yang terkandung dalam pupuk hayati memiliki kemampuan untuk menghasilkan fitohormon seperti auksin, giberelin, dan sitokinin (Setiawati et al., 2014).
Anjuran pemupukan yang tepat terus digalakkan melalui program pemupukan berimbang (dosis dan jenis pupuk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi), namun sejak sekitar tahun 1996 telah terjadi penurunan produktivitas (leveling off) sedangkan penggunaan pupuk terus meningkat. Hal ini berarti terjadi penurunan efisiensi pemupukan. Berbagai faktor tanah dan lingkungan tanaman harus dikaji lebih mendalam.
Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Oleh karena itu anjuran (rekomendasi) pemupukan harus dibuat lebih rasional dan berimbang berdasarkan kemampuan tanah menyediakan hara dan kebutuhan hara tanaman itu sendiri sehingga efisiensi penggunaan pupuk dan produksi meningkat tanpa merusak lingkungan akibat pemupukan yang berlebihan. Dari uraian di atas terlihat bahwa pemakaian pupuk secara berimbang sampai saat ini masih merupakan pilihan  yang paling baik bagi Petani dalam kegiatan usahanya untuk meningkatkan pendapatan.Percepatan peningkatan produksi pangan harus dilaksanakan secara konsepsional melalui program sosialisasi yang terpadu. 
Pemupukan yang dilakukan pada satu pertanaman berarti menambahkan/menyediakan hara bagi tanaman. Dengan demikian program pemupukan berimbang dapat saja menggunakan pupuk tunggal (Urea/ZA, TSP/SP-36 dan KCl) dan atau pupuk majemuk.
  
I.          Penelitian Terupdate tentang Pupuk Hayati (5 tahun terakhir)
Pengaruh aplikasi pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai rawit (capsicum frutescens L.) varietas Bhaskara di PT Petrokimia Gresik (Wardhani S 2014).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aplikasi pupuk hayati dan berapa dosis optimal pemberian pupuk hayati terhadap peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) varietas Bhaskara. Pupuk hayati produksi PT. Petrokimia Gresik mengandung berbagai jenis mikroorganisme fungsional seperti Azospirillum sp., Azotobacter sp.,  Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Streptomyces sp. Mikroorganisme inilah yang memiliki potensi yang besar dalam memacu  pertumbuhan tanaman. Azospirillum sp., Azotobacter sp., dan Pseudomonas sp., sebagai penghasil hormon pertumbuhan dan penambat N2 udara. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah buah dan berat buah. Hasil pengamatan dianalisis dengan Anova One Way pada taraf signifikansi 5% dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk hayati berpengaruh tetapi tidak berbeda nyata terhadap jumlah buah dan berat buah tanaman cabai rawit. Dosis pemberian pupuk hayati terhadap peningkatan produktivitas tanaman cabai rawit adalah pada kisaran 50-100 kg/ha.
Pemanfaatan Berbagai Jenis Pupuk Hayati pada Budidaya Tanaman Jagung(Zea mays. L) Efisien Hara di Lahan Kering Marginal (Moelyohadi et al. 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe jagung efisien hara yang memberikan respon terbaik terhadap berbagai jenis pupuk hayati pada tingkat pemupukan kimia dosis rendah di lahan kering marginal. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Agro Tekno park (ATP) Kementerian Riset dan Teknologi, Sumatera Selatan dari bulan Mei – September 2011. Pemanfaatan pupuk hayati dilakukan berdasarkan respon positif terhadap peningkatan efektivitas dan efisiensi pemupukan sehingga dapat menghemat biaya pupuk dan penggunaan tenaga kerja. Teknologi yang dapat digunakan adalah penerapan pupuk mikroba (microbial fertilizer). Penelitian menggunakan Rancangan Split Plot design dengan masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan petak utama terdiri dari : (Ho): tanpa pupuk hayati, (H1): mikoriza, dan (H2): pupuk hayati BPF. Perlakuan anak petak, terdiri dari tiga genotipe hasil seleksi galur jagung untuk sifat efisien hara,yaitu galur: B-41 (G1), L-164 (G2), S-194 (G3) serta varietas BISI 816 (G4) sebagai varietas pembanding. Semua unit perlakuan diberi pupuk kimia dosis rendah yaitu 50% dari dosis standar ATP (200 kg Urea, 50 kg SP-36 dan 25 kg KCl ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk mikoriza menghasilkan produksi jagung tertinggi, yaitu 6,08 ton biji pipilan kering/ hektar dan galur jagung B-41 menunjukkan pertumbuhan yang lebih adaptif di 32 lahan kering marginal dengan tingkat produksi 7,27 ton biji pipilan kering/ha. Serta kombinasi perlakuan pupuk mikoriza dan galur B-41 memberikan pertumbuhan dan produksi tertinggi dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya, dengan tingkat produksi sebesar 8,57 ton pipilan kering/hektar.

BAB III
PENUTUP

A.                         Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan, pupuk hayati merupakancinokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman.Pupuk hayati memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme yang dimilikinya.


DAFTAR PUSTAKA

Afandie Rosmarkam dan Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.
Cattelan AJ, Hartel PG, Fuhrmann JJ. 1999. Screening for plant growth-promoting rhizobacteria to promote early soybean growth. Soil Sci.Soc.Am.J. 63: 1.670-1.680.
Fadiluddin, M. 2009. Efektivitas Formula Pupuk Hayati dalam Memacu Serapan Hara, Produksi dan Kualitas Hasil Jagung dan Padi Gogo di Lapang. [tesis]. Mayor Biologi Tumbuhan, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
FNCA Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA). Japan Atomic Industrial Forum, Tokyo.
Gunalan. 1996. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Majalah sriwijaya Vol. 32. No. 2. Universitas Sriwijaya
Jutono. 1982. Fiksasi Nitrogen (N2) pada Leguminose dalam Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
Lingga, Pinus, Marsono. 2009. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar        Swadaya
Moelyohadi et al.2013. Pemanfaatan Berbagai Jenis Pupuk Hayati pada Budidaya Tanaman Jagung (Zea mays. L) Efisien Hara di Lahan Kering Marginal.Jurnal Lahan Suboptimal.Vol. 1 (1): 31-39.
Saraswati RDH et al.. 1998. Pengembangan Rhizo-plus untuk Meningkatkan Produksi, Efisiensi Pemupukan Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi Kedelai, Laporan Akhir Penelitian Riset Unggulan Kemitraan I Tahun (1995/1996-1997-1998). Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan.
Setiawati, M.R., Suryatmana, P., Hindersah, R., Fitriatin, B.N. dan Herdiyantoro, D. (2014). Karakterisasi Isolat Bakteri Pelarut Fosfat untuk Meningkatkan Ketersedian P pada Media Kultur Cair Tanaman Jagung (Zea mays L.). Bionatura - Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik, 16(1),30–34.
Simanungkalit RDM et al. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Subba Rao, N.S. 1982. Biofertilizer in Agriculture.Oxford and IBH Publishing Co. New Delhi.
Suwahyono, U., 2011, Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik SecaraEfektif            dan Efisien, Penebar Swadaya, Jakarta.
Pangaribuan,D. dan H. Pujisiswanto.2008.Pemanfaatan kompos jerami meningkatkan produksi dan kualitas buah tomat. Di dalam: Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II. Bandar Lampung, 17-18 November 2008. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Wardhani A. 2014. Pengaruh Aplikasi Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Varietas Bhaskara di PT Petrokimia Gresik. Jurnal Sains Dan Seni Pomits. Vol. 2 (1) :2337-3520.
Sahar Hanafiah. 2014. Peran Bioteknologi Tanah dan pupuk Hayati / Pestisida Hayati dalam Pertanian Organik, Pertanian Berkelanjutan dan Pengelolaan Lingkungan, Bioteknologi Tanah, Pupuk Hayati dan Aplikasinya AGR-638. USU: Medan

BIOTEKNOLOGI: TEKNOLOGI PCR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Polymerase Chain Reaction (PCR)   PCR adalah teknik yang paling umum digunakan ol...